Memang dalam memahami sesuatu
pengetahuan kita harus menggalinya dengan komperhensif dan tidak parsial, dan
dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak terkecuali tenatang historisnya.
Oleh karena itu sebelum kita membahas lebih mendalam lagi ada baiknya kita menkkaji
hukum adat menurut historisnya.
Hukum adat itu sendiri memiliki
sejarah yang sangat menarik dan dalam mengkajinya pun dapat dibedakan menjadi beberapa periode antara
lain :
1. ZAMAN HINDU
Terkenal juga dengan istilah
Zaman Melayu Polinesia, terjadi pada Th.1500 SM – 300 SM. Pada masa ini terjadi
perpindahan penduduk dari daratan Asia menuju Indonesia. Dimana perpindahan
penduduk ini terbagi menjadi dua gelombang. Gelombang I dikenal dengan
gelombang Proto Malaio (Melayu Tua). Pada masa ini perilaku budaya
masyarakatnya masih sangat dipengaruhi kesaktian. Hingga saat ini, masalah
Magis Religius masih kental berada di kalangan masyarakat Indonesia, seperti
santet, pelet, ngepet dan sejenisnya. Gelombang II dikenal dengan gelombang Deutoro
Malaio (Melayu Muda). Pada masa ini perilaku budaya masyarakatnya
dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Kong Hu Cu.
2. ZAMAN SRIWIJAYA
Kerajaan Sriwijaya berpusat di
Palembang, kerajaan ini hidup di Abad VII s.d. Abad XIII. Keberadaan Kerajaan
Sriwijaya diketahui dari Prasasti – prasasti, seperti:
1) Prasasti
Raja Sanjaya (732M) yang isinya menceritakan tentang Agama yang dianut
masyarakat pada masa itu, kegiatan perekonomian pada masa itu, dan kegiatan
pertambangan rakyat pada masa itu.
2) Prasasti
Raja Dewasimha (760M) yang isinya menceritakan tentang Agama dan Kekaryaan
masyarakat kerajaan Sriwijaya pada masa itu.
3) Prasasti
Raja Tulodong (784M) yang isinya menceritakan tentang masalah-masalah
pertanahan dan Pengairan.
4) Prasasti
Bulai dari Rakai Garung (860M) yang isinya menceritakan tentang Perkara
Perdata.
3. ZAMAN
MATARAM I
Kerajaan Mataram dapat diketahui
keberadaannya dari Prasasti Guntur (907 M) yang isinya tentang Peradilan oleh
Hakim Pu Gawel mengenai keputusan tentang Hutang Keluarga. Putusannya dikenal
dengan nama Javapatra. Lalu dari Prasasti Raja Mpu Sindok (927 M) yang
menceritakan tentang Hutang Piutang dan Waris. Dan juga ada Prasasti Raja
Dharmawangsa (991 M) yang isinya tentang Perintah Pembuatan Kitab
Perundang-undangan Purwadigama (Syiwasyana) dan penerjemahan Mahabharata.
4. ZAMAN
MAJAPAHIT
Selama kekuasaan Hayam Wuruk dan
Gajah Mada dalam syair “Negara Kertagama” terlihat peraturan hukum tentang:
- Pemerintahan Umum seperti masalah Pertanahan, Pajak, Wajib Militer, Tentara dan Kepolisian.
- Kehakiman dan Peradilan.
Dikenal adanya Kutaramanawa
(Kitab Undang-Undang) dan Jaksa Penuntut Umum / Astapada dalam Perkara
Pidana. Dimana Mahapatih Gajah Mada berperan sebagai Astapada.
- Politik Luar Negeri.
Pada masa kerajaan Majapahit,
Indonesia saat itu telah memiliki negara-negara sahabat sepertu Siam, Birma,
Campa, Kamboja, India & China. Wilayah Majapahit pada masa itu adalah
Indonesia dan Malaysia yang sekarang.
5. ZAMAN
ISLAM
- Zaman Kerajaan Aceh Darussalam
Pada akhir abad XII, Islam masuk
ke Indonesia dari daerah Aceh (Kesultanan Perlak, Samudra Pasai, Aceh
Darussalam). Sehingga hingga saat ini Aceh terkenal dengan istilah SERAMBI
MEKAH, karena dari Aceh inilah ajaran agama Islam disalurkan dari Mekah ke
Indonesia. Dari empat Mazhab yang dikenal dalam Islam (Mazhab Syafei, Hambali,
Maliki dan Suni), Hukum yang berlaku adalah Hukum Islam berdasarkan ajaran Imam
Syafei, dan Hukum Adat yang berlaku adalah hukum adat yang bersendikan
pada Hukum Islam.
Pada masa ini Kerajaan Aceh
telah memiliki mata uang, angkatan darat yang diperkuat pasukan Gajah dan
angkatan laut yang dilengkapi bedil & meriam. Ada juga tentara wanita. Dan
untuk memperkuat angkatan perangnya, maka Kerajaan ini memiliki pabrik senjata
sendiri.
Indonesia pada masa ini telah
pula melakukan hubungan diplomatik dengan menerima dan melayani duta negara
asing. Di bidang ekonomi ada industri kecil, kerajinan, pertambangan,
bea-cukai. Pada masa ini Ilmu pengetahuan & agama Islam berkembang pesat.
Pada masa ini pula Hak wanita & pria sama dalam rumah tangga, harta,
perdagangan serta olah raga.
Dikenal pula adanya Kitab Hukum
Acara Pidana atau Perdata yang dikenal dengan Kitab “Safinatul Hukkam fi
Takhlisul Khassam” (artinya: Bahtera bagi semua hakim dalam menyelesaikan
orang-orang yang berperkara). Terdiri dari:
BAB I = tentang Hukum
Perdagangan & Penyelesaian Perkara Perniagaan.
BAB II = tentang Hukum
Keluarga, Perkawinan & Perceraian.
BAB III = tentang Hukum
Pidana, ancaman hukuman
BAB IV = tentang Kewarisan.
2. Zaman Demak
Sekitar abad XV Demak masih
dibawah kekuasaan Majapahit Menurut Babad Tanah Jawi (ditulis pd th.1625 &
1633), R. Patah, putra Raja Brawijaya, menundukkan Majapahit th.1478 &
mendirikan Bintara Demak yang kerajaannya berpusat di Masjid Demak. Urusan
pemerintahan & hukum berdasarkan Hukum Islam, namun dalam pelaksanaan
peradilan masih dipengaruhi sistem yang berlaku di zaman Majapahit.
3. Zaman Mataram II
Pada masa ini Sultan yang
berpengaruh adalah Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Agung Senopati Ing
Alogo Ngabdurahman (Sultan Agung). Sultan juga merubah tahun Cakra menjadi
Tarikh Islam Jawa & Sistem Peradilan Serambi.
4. Zaman Cirebon
& Banten
Pada masa ini dikenal Sistem
Peradilan yang lebih baik daripada kerajaan-kerajaan sebelumnya. Yaitu dengan
adanya tiga peradilan dengan tugas dan tanggungjawab yang berbeda. Adapun
ketiga peradilan tersebut adalah:
1) Peradilan Agama
Tugas dan tanggungjawabnya
adalah memeriksa perkara yang dapat dijatuhi hukuman badan / hukuman mati
karena sifat kejahatannya membahayakan negara, mengurus perkara perkawinan,
perceraian & pewarisan. Hukum yg digunakan adl Hukum Islam & pendapat
para ahli agama.
2) Peradilan Drigama
Tugas dan tanggungjawabnya
mengadili perkara-perkara pelanggaran adat yang diadili berdasarkan hukum adat
jawa kuno dengan memperhatikan hukum adat yang berlaku setempat.
3) Peradilan Cilaga
Tugas dan tanggung jawabnya
memeriksa & mengadili perkara-perkara yang menyangkut perselisihan
perekonomian atau perdagangan. Menggunakan sistem wasit / penengah.
Masyarakat adat pada masa ini
menuntut bahwa hakim harus memiliki sifat-sifat alam seperti:
- Sifat Chandra (bulan), sebagaimana layaknya bulan yang menerangi kegelapan, hakim pun dituntut untuk dapat memberikan pencerahan bagi mereka yang jiwanya tersesat, sehingga melakukan penyimpangan dengan melakukan tindakan kriminal.
- Sifat Tirta(air), sebagaimana layaknya air yang membersihkan, maka hakim pun dituntut untuk dapat membersihkan masyarakat dari sampah masyarakat.
- Sifat Cakra(dewa), masyarakat adat menganggap bahwa hakim merupakan wakil Tuhan atau Dewa, karena kekuasaan hakim yang dapat memberikan hukuman mati sekalipun.
- Sifat Sari (harum), masyarakat adat menganggap bahwa hakim harus menjaga perilakunya, janganlah kemudian ada Hakim Yang Mulia tetapi melakukan perbuatan yang tidak mulia, seperti mencuri, bermain wanita, berjudi.
5. Zaman Kolonial
Belanda
Pada masa kolonial Hukum Adat
dibiarkan seperti sediakala. Hukum yg dipakai dlm pelaksanaan peradilan
kejahatan dipakai acuannya adalah Hukum Adat setempat, apabila di pandang baik.
Dasar berlakunya Hukum Adat bagi gol. Pribumi & Timur Asing adalah Pasal 11
AB. Hukum Adat pernah hendak di unifikasi karena ada Asas Konkordansi, tetapi
akhirnya yang terjadi tetap dualisme atau pluralisme hukum.
6. Zaman
Kemerdekaan
Keberadaan masyarakat adat
dengan Hukum Adatnya diakui sebagai Hukum Indonesia Asli yang tidak tertulis
yang disana-sini mengandung unsur agama. Kodifikasi & Unifikasi hukum
dengan menggunakan bahan-bahan dari Hukum Adat dibatasi pada bidang-bidang dan
hal-hal yang sudah mungkin dilaksanakan.
Peraturan adat istiadat kita ini
pada hakikatnya sudah terdapat pada zaman kuno, zaman Pra-Hindhu. Lambat laun
datanglah kultur Islam dan kultur Kristen yang masing-masing mempengaruhi
kultur asli tersebut. Kini hukum Adat yang hidup pada rakyat adalah merupakan
hasil akulturasi antara peraturan-peraturan adat-istiadat jaman pra-Hindu
dengan peraturan-peraturan kultur Islam dan kultur Kristen. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa di Indonesia berlaku pluralisme hukum. Teori-teori yang
berkembang karena adanya pluralisme hukum tersebut adalah:
Teori Receptio
in Complexu (van den Berg)
“Hukum suatu golongan masyarakat
itu merupakan resepsi / penerimaan secara bulat dari agama yang dianut oleh
golongan tersebut.”
Teori Receptio
(oleh Snouck Hurgronye)
“Hukum agama belum merupakan
hukum jika belum diterima oleh Hukum Adat.”
Teori Receptio A Contrario
Teori ini dikembangkan oleh
penulis Islam, dikatakan bahwa “Hukum Adat hanya dapat berlaku dan dilaksanakan
dalam pergaulan hidup masyarakat jika hukum adat itu tidak bertentangan dengan
hukum Islam.”[1]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar