Kamis, 06 Februari 2014

ANCAMAN KAUM DEMAGOG DALAM PENEGAKAN DEMOKRASI INDONESIA



    Demokrasi di Indonesia memang banyak mengalami perkembangan yang sangat pesat setelah adanya reformasi. Namun, demokrasi yang berlangsung setelah reformasi hingga sampai sekarang bukanya berjalan mulus-mulus saja. Namun, perkembangan demokrasi ini memiliki tantangan dan hambatan tersendiri dalam penegakanya. Di mulai dari masalah yang mendasar atau hakikat dari demokrasi itu sendiri.


   Hal yang menjadi tantangan demokrasi yang mendasar adalah ada beberapa kalangan yang mempertanyakan apakah demokrasi itu baik ? jawaban yang sangat meyakinkan dari pertanyaan tersebut sebetulnya sudah terjawab pada zaman yunani kuno, yaitu pada abad 5 sebelum masehi. Hal itu di jawab oleh Plato dan Aristoteles dengan jawaban “TIDAK”.[1] Menurut filusuf Yunani tersebut ternyata mengungkapkan bahwa demokrasi bukanlah pilihan yang tepat untuk dijadikan sebuah sistem politik dalam sebuah negara, bahkan demokrasi di katakan berbahaya.

   Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh filusuf Yunani tersebut, yang pertama adalah demokrasi itu menyesatkan, karena menyerahkan kepada rakyat untuk menentukan pilihan haluan negara, padahal pada umumnya rakyat itu tidak tahu apa-apa alias awam. Penyerahan pilihan itu menyesatkan karena pilihan rakyat dapat bersifat buta. Kedua Aristoteles mengingatkan bahwa di dalam demokrasi itu banyak demagog, yakni agigator yang pandai menipu rakyat dengan pidato-pidato dan janji-janji bohong.[2]

   Berkaiatan dengan kaum demagog tersebut, rasanya ungkapan Aristoteles sudah sangat relevan dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini, terutama dalam masa-masa menjelang pemilu. Para calon legislatif atau yang lebih umum disebut caleg, banyak yang mengobral janji-janji dan visi misinya di dalam masyarakat. namun, ketika sudah terpilih sebagian besar melupakan janjiya untuk mensejahterakan rakyat. Anggota dewan yang terhormat tersebut layaknya paduan suara saja, seperti yang di nyanyikan oleh Iwan Fals[3].

   Dari berbagai permasalah yang timbul tersebut, memang menjadi kendala tersendiri dalam penegakan demokrasi. Namun, permasalahan mengenai kaum demagog yang di ungkapkan oleh Aristoteles menjadi hal yang sangat penting untuk di kaji secara mendalam. Hal ini tidak terlepas dari realitas di masyarakat saat ini. Realitas bahwa kaum demagog pada saat ini menguasai sebagian besar politik di negeri ini. Ini terlihat dari sedikit banyaknya kasus korupsi yang ada di Indonesia yang menyeret para elit politik di tingkat pusat maupun di daerah. Di tingkat pusat kita tidak lupa dengan kasus hambalang, dimana sebagian besar yang menjadi tersangka sebagian besar adalah anggota partai politik yang sedang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat/DPR. Di tingkat daerah muncul kasus dinasti politik di provinsi Banten. 

   Sungguh akibat yang timbul dari adanya dominasi kaum demagog ini menjadikan negara yang kita cintai ini, dalam kondisi yang berbahaya. Tidak hanya mengancam penegakan demokrasi, melainkan lebih dari itu. Kaum demagog yang merajalela mampu merusak dan bahkan dapat mengancam eksistensi negara.

   Melihat dari potensi ancaman kaum demagog ini dalam penegakan demokrasi, yang khususnya dalam pemilu. Penting kiranya untuk mencegah dan memberantas kaum demagog. Dimana, bila kita melihat asal munculnya kaum demagog dalam demokrasi di Indonesia memang tidak terlepas dari partai politik. Hal ini, bisa kita melihat dari salah satu fungsi partai politik. Yaitu, fungsi recruitment politic. Seperti yang di ungkapkan oleh Miriam Budiardjo, Partai politik berfungsi untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik (political recruetment). Dengan demikian partai turut memperluas partisipasi politik. Caranya ialah melalui kontak pribadi persuasi dan lain-lain. Juga diausahakan untuk menarik golongan muda untuk di didik menjadi kader yang dimasa mendatang akan mengganti pimpinan lama (selection of leadhership).[4]


[1] Mahfud MD, Moh.”Konstitusi Dan Hukum dalam Kontroversi Isu, Jakarta Rajawali Pers 2010 hlm. 410
[2] Ibid, hlm 210
[3] Lirik lagu surat untuk wakil rakyat
[4] Prof. Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982 PT. Gramedia, Jakarta hlm.164

Entri Populer

silaturahmi

bagi kawan2 pengunjung blog ini, bisa menghubungi saya di 746839BA Hehehe, untuk menjalin silaturahmi antar umat manusia