Rabu, 18 September 2013

FILSAFAT ( BERUSAHA MEMAHAMI BERFILSAFAT)



PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat sendiri lahir di Yunani pada abad 6 SM. Pada periode filsafat sokratik kata filsafat digunakan dalam karya Plato “phaidros”. Dalam karya itu Plato menerangkan bahwa kata “makhluk bijak” shopos  terlalu luhur untuk seorang manusia. Jadi bagi Plato manusia lebih baik dijuluki pecinta kebijaksanaan philosopos atau yang kita kenal filsafat. Jadi filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan (philos yang berarti cinta dan shopos berarti kebijaksanaan).
Selain itu filsafat juga ada yang memahami sebagai pandangan hidup (falsafah) atau sekedar teori yang begitu scientific atau hanya sekedar ajaran atau disiplin ilmu. Namun apa yang kita pelajari pada filsafat kali ini bukanlah filsafat yang seperti di atas. Namun filsafat yang kita coba mengenal dan memahaminya adalah filsafat yang kritis. Dalam arti kita tidak hanya membenarkan dogma-dogma dalam pandangan suatu ajaran supaya terlihat rasional. Filsafat yang memerdekakan manusia sebagai subjek yang berani untuk berpikir sendiri menjadi seorang persona.
Jadi secara sederhana kita mencoba berfilsafat dalam arti merefleksikan kritis tentang apa yang kita hadapi, ini juga memberikan arti bahwa berfilsafat adalah berpikir atau merenung secara mendalam dalam mencari kebenaran. Oleh sebab itu secara tidak sadar sebetulnya setiap manusia pasti berfilsafat baik disadari ataupun tidak disadari.

SUBJEK, OBJEK, DAN METODELOGI DALAM BERFILSAFAT

Dalam berfilsafat, kita juga tidak terlepas dari subjek, objek dan metodologi. Kegiatan belajar dan kegiatan untuk memperoleh pengetahuan yang melibatkan daya refleksi sangat membutuhkan tiga aspek di atas. Subjek adalah kita, manusia yang ingin memperoleh pengetahuan. Objek adalah sesuatu yang kita pilih untuk kita hadapi, untuk kita amati dan kita refleksikan. Lalu metodologi adalah cara kita menghadapi hal yang akan kita amati atau yang akan kita refleksikan.
Dalam kaitanya dengan metodologi, metodologi adalah sarana penghubung antara subjek dan objek, dan dari sudut mana subjek memandang objek. Ini menunjukan metodologi menunjukan sebuah prespektif tertentu dalam kegiatan pengamatan. Kita tidak dapat mengambil dari banyak prespektif karena memang keterbatasan kita untuk mengambill sudut pandang tertentu saja.

PENDEKATAN DALAM BERFILSAFAT

Dalam kaitanya untuk meahami filsafat lebih jauh, ada dua pendekatan yang bisa di ambil. Yaitu mendekati filsafat secara kronologis dan pendekatan secara tematik. Pendekatan secara kronologis adalah kita mencermati pemikiran para filusuf dari waktu ke waktu dalam kurun waktu yang berurut. Misalnya dalam mempelajari filsafat modern, maka kita akan mempelajari pemikiran para filusuf yang hidup pada abad modern, yang mulai dari Machiavelli sampai Frederich Nietzche.
Yang kedua adalah mengenal filsafat dengan menggunakan pendekatan tematik. Cara ini mengarahkan kita untuk memfokuskan diri pada tema tertentu yang muncul dalam perbincangan filosofis. Pendekatan ini mengarahkan kita untuk mengetahui, berpikir dan berbicara secara sistematis tentang tema tertentu yang telah kita pilih. Misalnya tema mengenai kehendak bebas.

LANGKAH DALAM MENCAPAI PEMAHAMAN

Pemahaman dalam filsafat dilakukan menurut langkah-langkah berikut :
1.      Mengerti dan memahami masalah yang etrkandung dalam pertanyaan filosofis. Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memahami dan mengerti pertanyaan.
2.      Setelah memahami masalah yang muncul kita harus melihat berbagai kemuungkinan jawaban yang ada beserta argumen-argumen baik yang menguatkan ataupun yang melemahkan.
3.      Yang ketiga adalah kita menoba melihat sekali lagi pernyataan yang memungkinkan jawaban yang kita ajukan untuk dilemahkan ( kemungkinan falifikasi). Dalam tahap ini kita mengkritisi jawaban yang kita ajukan sendiri dalam rangka afirmasi dari jawaban yang kita miliki.

TUGAS FILSAFAT : TUGAS KRITIS DAN TUGAS KONSTRUKTIF

Secara umum filsafat mempunyai dua tugas, yaitu tugas kritis dan tugas konstruktif. Tugas kritis ditandai dengan adanya pertanyaan-pertanyaan filosofis. Sedangkan tugas konstruktif ditndai dengan proposisi-proposisi atau pernyataan-pernyataan yang berisi simpulan dari pertanyaan yang dimunculkan.Jadi tugas kritis adalah tugas yang coba mempetanyakan lagi ukuran-ukuran penilaian yang kita gunakan.
Dengan dua tugas demikian, kita dapat menentukan beberapa ciri pertanyaan filosofis:
1.      Pertanyaan filosofis tidak dapat dikategorikan sebagai pertanyaan saintifik ataupun intrasaintifik. Sains pada hal ini mengacu pada empirisme ilmu-ilmu alam.
2.      Secara sepontan kita tidak dapat memabyangkan bukti apa yang dapat dijadikan jawaban untuk menjawab pertanyaan filosofis.
3.      Pertanyaan filosofis mempunyai jawaban-jawaban yang menyentuh berbagai dimensi kehiduapan.
4.      Pertanyaan filosofis menyentuh logika yang fundamental. Artinya jawaban akan sebuah pertanyan filosofis akan menentukan pertanyaan selanjutnya  yang secara logis akan berkaitan dengan sistem yang pertama.
5.      Pertanyaan filosofis selalu menyentuh bidang yang sangat luas dan mendalam.
6.      Pertanyaan filosofis dspat digolongkan ke dalam berbagai tipe, yakni :
a.       Pertanyaan logis : dalam filsafat hukum berkaitan dengan validitas sebuah norma
b.      Pertanyaan ontologis : pernyataan ini berkaitan dengan keberadaan tentang sesuatu hal. Secara sepesifik ingin mengetahui bagaimana struktur keberadaan suatu hal tersebut
c.       Pertanyaan epistimologis : pertanyaan tentang kemungkinan atau probilitas pengetahuan yang kita miliki. Epistimologis menentukan asal-usul dan batas-batas pengetahuan manusia.
d.      Pertanyaan aksiologis : berkaitan dnegan nilai-nilai yang diyakini dalam masyarakat.


sumber : cahyadi antonius, E fernando manulang. pengantar filsafat hukum 2008 kencana prenada group jakarta.
      dll.

oleh dwiky agil ramadhan

Entri Populer

silaturahmi

bagi kawan2 pengunjung blog ini, bisa menghubungi saya di 746839BA Hehehe, untuk menjalin silaturahmi antar umat manusia