Minggu, 27 Oktober 2013

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA DAN BAHASA "ALAY", "VIKINISASI"

Menilik kembali ke masa lampau, pada tanggal 28 oktober 1928 adalah tanggal yang istimewa bagi pemuda Indonesia. Karena pada tanggal itu terjadi peristiwa yang sangat penting bagi bangsa ini "Sumpah Pemuda", Sumpah Pemuda ini di latar belakangi pemuda Indonesia pada waktu itu mempunyai keinginan untuk bersatu, berkumbul, bertekad untuk memajukan bangsa Indonesia.

Latar belakang lahirnya sumpah pemuda yang sangat mulia ini menjadi dasar perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Dalam perjalanan sejarah di Indonesia pemuda sangat memberikan kontribusi yang sangat penting, mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan yang di pelopori dan di gerakan oleh kaum muda, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, sampai reformasi pada tahun 1998.

Namun, kebesaran pemuda Indonesia sepertinya pupus begitu saja ketika kita melihat realitas pemuda Indonesia saat ini. banyak para pemuda kita yang lupa akan jati dirinya sebagai generasi penerus bangsa. banyak pemuda Indonesia yang malah memuja-muja budaya luar Indonesia yang kurang cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. terutamanya dalam berbahasa.

Ada yang sangat menarik untuk ditelisik dan dikaji mengenai bahasa dalam sumpah pemuda dengan bahasa yang digunakan sebagian besar pemuda Indonesia saat ini. Dalam sumpah pemuda ada ikrar bagi pemuda Indonesia yaitu "kami poetra dan poetri indonesia, mendjoenjoeng bahasa persatoen, bahasa Indonesia", dahulu pemuda kita berikrar untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Mereka bangga dengan bahasa Indonesia. dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bentuk persatuan pemuda dari berbagai suku bangsa di Indonesia demi terciptanya persatuan Indonesia.

Namun, menjadi ironi pada saat ini, ketika banyak pemuda menggunakan bahasa-bahasa "alay" dan bahasa-bahasa "vikinisasi". Yang menjadi pertanyaan penulis adalah, apakah pemuda saat ini tidak bangga dengan bahasa persatua kita, bahasa Indonesia. Kita pasti ingat seorang pemuda yang bernama Viki menggunakan bahasa yang sangat sulit di pahamami bagi orang lain. Ada istilah "konspirasi ekomomi" "harmonisasi cinta" dan lain sebagainya. masih lebih baik menggunakan bahasa daerah dalam rangka menjaga kelestarian bahasa daerah.

Dengan ironi yang demikian, apakah penggunaan bahasa bisa menjadi indikator dalam menjujung nilai-nilai persatuan bangsa ? ini menjadi refleksi pribadi masing-masing dalam berbahasa. semoga ikrar yang dikumandangkan pemuda-pemuda indonesia pada saat Soempah Pemoeda masih kita ingat dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, aamiin......

do'a penulis untuk pemuda Indonesia

Entri Populer

silaturahmi

bagi kawan2 pengunjung blog ini, bisa menghubungi saya di 746839BA Hehehe, untuk menjalin silaturahmi antar umat manusia